SuperBunda

Tips Bunda

7 CARA CEPAT ATASI SI KECIL YANG BERSIKAP KASAR

24 February by Super User
1375
( 1 Vote ) 
7 CARA CEPAT ATASI SI KECIL YANG BERSIKAP KASAR

Bunda Smart, pernah mengalami waktu yang membuat frustasi saat si kecil tidak menurut dan malah menunjukkan sikap tidak hormat dengan membentak Bunda? Misal ketika sudah waktunya pulang dari main di rumah sahabatnya, tetapi si kecil tidak mau dan tantrum. Bunda memiliki waktu 5 menit sebagai peringatan dan mengharapkan segalanya berjalan dengan smooth ketika membujuk si kecil pulang.
Dan tiba-tiba, hal itu terjadi. Si kecil terbakar marah dan membentak Bunda.

“Nggak mau pulang! Bunda nggak pernah mau ngertiin!”
Bersama dengan rasa lelah, rasa marah meningkat di dalam. Jadi Bunda balas berteriak,
“Adek nggak boleh teriak begitu sama Bunda!”
    Benar Bunda, ketika si kecil berani menunjukkan sikap tidak hormat, itu bukan good behavior at all. Dan sikap kasar si kecil merupakan masalah komunikasi yang jamak ditemui oleh para Bunda. Tentunya, sebagai orang tua kita butuh untuk mengajarkan putra-putri kita tentang bagaimana mereka harusnya bersikap baik dan menghormati orang lain dalam berkomunikasi.
Sayangnya Bunda, kita tidak dapat mengajarkan kepada mereka tentang bersikap hormat saat itu juga. Bunda Smart pasti gemas dan ingin “membetulkan” sikap salah si kecil at the very moment. Bunda mana sih yang ingin melihat buah hatinya bersikap kasar dan membentak-bentak? Tetapi sayangnya, saat si kecil sedang marah, bagian berpikir otak mereka seperti sedang di turn off. Mereka berada dalam posisi mempertahankan diri, sesuatu seperti “flight or fight”.
Dan, kita tidak dapat mengajarkan sikap menghargai dan menghormati orang lain dengan memperlakukan mereka dengan balas membentak. Bila Bunda smart terpancing oleh sikap kasar mereka, bagian dari otak akan beralih ke arah “pertahanan diri” juga. Bunda tidak akan dapat berpikir secara rasional. Respon yang Bunda berikan akan penuh dengan kemarahan, balas berteriak (yang sangat no good) dan pada akhirnya Bunda akan memberikan hukuman. Atau sebaliknya, Bunda merasa terlalu lelah untuk menanggapi dan menyerah.


APAKAH ADA CARA LAIN?
Saat Bunda merasa tertekan dan ingin menghukum si kecil seketika atas apa yang ia lakukan, berikut adalah beberapa alternatif respons yang dapat Bunda coba, yang memiliki kemungkinan lebih besar untuk berhasil, seperti dikutip dari imperfectfamilies.com.

1. Tetap tenang
Apakah hal ini terdengar tidak masuk akal? Sangat sulit memang untuk tetap bersikap tenang saat buah hati tersayang bersikap kasar. Namun, membalas mereka dengan sikap yang sama kasarnya dengan ucapan verbal tidak akan menyelesaikan masalah dan malah akan mengirimkan pesan yang salah. Cobalah untuk bersikap tenang dengan menghirup napas dalam-dalam, hitung dengan lambat 20 detik dan katakan kepada diri sendiri: Ini bukan emergensi.

2. Selidiki tingkah laku
Cobalah untuk melihat dari sudut pandang si kecil. Kenapa mereka bersikap demikian? Apakah hal yang sebenarnya mereka ingin sampaikan? Apakah mereka sedang merajuk karena sebenarnya mereka merasa tidak nyaman? Apakah mereka sedanng merasa tidak berdaya? Respons mereka adalah refleksi dari apa yang mereka sebenarnya rasakan di dalam diri mereka. Sayangnya, di titik ini, anak-anak belum dapat menyampaikan perasaan tersebut dalam bentuk kata-kata yang pantas.

3. Bersikap Empati
Bunda bisa membantu si kecil untuk mengerti apa yang mereka rasakan dengan sikap yang penuh empati. Sesuatu seperti, “Sayang, Bunda tahu rasanya nggak adil kita harus pergi sekarang..” atau “ Bunda mengerti kok Adek, Adek nggak mau pulang karena lagi seneng-senengnya main sama temen ya?”. Bunda smart tidak perlu setuju dengan perasaan tersebut, namun dengan merespon mereka dengan sikap yang penuh empati, hal ini berarti bahwa Bunda berusaha untuk memahami apa yang mereka inginkan.

4. Periksa Jam
Terkadang, ada anak-anak yang terpengaruh dengan asupan gula yang rendah di dalam darah, rasa lapar, atau mungkin haus. Beberapa yang lain sangat sensitif ketika tidak mendapatkan jumlah tidur yang cukup. Apakah jam makan si kecil sudah lama terlewati? Apakah mereka  sudah minum? Coba tawarkan dengan cara yang halus seperti, “Bunda rasanya kepengen makan biskuit coklat nih, Adek mau juga nggak?”


5. Slow DOWN
Sangat mudah untuk terpengaruh oleh sikap kasar si kecil dengan balas merasa marah, melemparkan kata penuh rasa frustrasi. Namun, alih-alih merespon setiap kritik atau komplain yang mereka berikan, cobalah untuk mengerem mereka, dengan sesuatu yang seperti “Waw! Banyak sekali ya yang Adek mau bilang? Bunda mau kok dengerin Adek, tapi Adek bicara terlalu cepat. Coba Adek bilang lagi tapi pelan-pelan ya jadi Bunda bisa ngerti apa yang mau Adek bilangin?”

6. Abaikan sejenak
Terkadang, justru dengan tidak merespon sama sekali merupakan jenis respon yang terbaik, terutama saat Bunda tahu bahwa si kecil sedang lelah atau lapar atau sedang dalam mode mempertahankan diri –-atau simply ketika Bunda tidak dapat menahan diri untuk merespon dengan sikap sinis, sarkastis, atau marah. Bunda smart tidak perlu mengabaikan hal ini selamanya. Saat keadaan sudah lebih tenang, Bunda dapat membicarakan kembali apa yang telah terjadi dan mendiskusikan bagaimana dapat melakukan hal tersebut dengan cara yang berbeda di lain waktu.


7. Peluk si kecil
Terkadang saat buah hati tersayang sedang tidak manis, mungkin hal terakhir yang Bunda ingin lakukan adalah mencurahkan kasih sayang dengan menyentuh atau memeluk mereka. Bagaimanapun, sebenarnya kontak fisik adalah hal yang paling mereka butuhkan. Bila Bunda dapat menutup mata sejenak dari sikap tidak manis mereka, Bunda akan dapat melihat sebenarnya si kecil sedang terluka dan membutuhkan dukungan. Terkadang, sebuah pelukan penuh pengertian jauh lebih berarti daripada respon verbal.

AJARI MEREKA NANTI

Menunggu saat yang tepat atau menunda mengoreksi sikap mereka tidak berarti bahwa Bunda adalah orang tua yang pasif, atau bahwa Bunda seakan menyetujui bahwa sikap kasar itu BOLEH. Ini hanya berarti bahwa Bunda sedang menunggu bagian dari otak Bunda dan si kecil yang dapat menerima dan mengolah informasi beroperasi kembali, tanpa terpengaruh dengan rasa penuh kemarahan.
Ketika Bunda sudah siap untuk mulai berbicara, Bunda dapat memulainya dengan sesuatu seperti, “Sepertinya Adek kemarin marah ya kita harus pulang dari rumah temen Adek? Bisa nggak kita coba bareng-bareng cari cara lain Adek sampaikan perasaan Adek ke Bunda?”
Bunda pun punya perasaan! Dan sangat OK untuk mengekspresikan hal tersebut, dan membiarkan si kecil tahu bagaimana kata-kata yang mereka ucapkan akan mempengaruhi Bunda. Berhati-hatilah di dalam menyampaikan hal ini, jangan sampai seakan menyalahkan mereka. Tetaplah berfokus bagaimana atau apa yang Bunda rasakan. “Bunda sedih sayang.. Kalau Adek bersikap seperti itu..”
Bila mungkin Bunda kehilangan rasa sabar dan ikut larut meledak marah di tengah situasi panas, akuilah hal tersebut. Bunda pun manusia biasa dan tidak sempurna, dan merupakan hal yang baik untuk memperlihatkan pada si kecil bahwa Bunda juga sedang belajar menguasai sikap tenang. Sebab, si kecil merupakan imitator paling hebat dan alami yang pernah ada.
Hal-hal inilah yang akan terjadi saat sedang dalam proses mengajari mereka tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di saat mereka marah. Di saat otak dalam keadaan tenang, mereka dapat mengolah informasi dan nantinya si kecil dapat belajar mengatasi rasa marah mereka dan merespon dengan lebih baik di kesempatan berikutnya.

Sumber: http://imperfectfamilies.com/2015/05/18/how-to-respond-when-your-child-is-disrespectful/

Last modified on Tuesday, 12 April 2016 06:43
Thanks for sharing !

Add comment


Security code
Refresh

latest post